728x90 AdSpace

  • Latest News

    Wednesday, 27 July 2016

    Maestro Tari Topeng Kreyo Terakhir Terpaksa Jadi Tukang Pijat


    Selama satu dekade, maestro Topeng Kreyo Cirebon tidak pernah tampil menari di panggung. (Liputan6.com/Panji Prayitno)


    Liputan6.com, Cirebon - Matanya berbinar seakan mendapatkan kembali jiwanya sebagai seniman tari topeng Cirebon. Tubuhnya yang kecil dan renta tak mematahkan semangat Mimi Tumus menampilkan keluwesannya menari Topeng Kelana Cirebon.

    Di usianya yang ke-80 tahun dan lebih dari 10 tahun tidak menari, Mimi Tumus kembali menghibur warga Desa Kreyo, Kabupaten Cirebon, pada acara Youth Environmental Award (YEA) 2016. Penampilan Mimi Tumus mampu membuat mata penonton tak berkedip.

    Mimi Tumus tampil maksimal di hadapan penonton, khususnya tamu undangan dari Keraton Kanoman Cirebon. Setiap gerak langkah kaki dan tangannya dibarengi dengan mimik muka yang sesuai dengan karakter tarinya. Mimi Tumus mengaku sangat senang dalam penampilannya itu.

    "Saya dirayu sama anak-anak dari Sanggar Lingkungan Hidup (SLH) yang kebetulan lokasinya dekat dengan rumah saya di Desa Kreyo. Saya menganggap mereka juga anak-anak saya, akhirnya saya mau menari lagi untuk mereka saja," ucap Mimi Tumus, Rabu, 27 Juli 2016.

    Liputan6.com berkesempatan berbincang-bincang dengan salah satu seniman generasi terakhir dari pewaris kesenian tari asal Desa Kreyo ini. Tubuhnya yang mungil menjadi alasan keluarga Mimi Tumus mewariskan kesenian topeng Kreyo kepadanya.

    Darah seni memang sudah mengalir dalam tubuh Mimi Tumus. Tanpa kesulitan yang berarti ia mampu menjalani proses dan menjadi penari topeng profesional di zamannya.

    "Sebelum menari, saya belajar main gamelan dahulu mungkin sudah 15 tahun. Orang-orang justru menonton saya, bukan menonton penarinya karena saya perempuan kecil sendirian dan lihai memainkan Saron (salah satu gamelan) kanan yang sulit," Mimi Tumus mengenang.

    Saat itu, Tumus remaja yang sudah lihai memainkan alat musik tradisional diminta untuk belajar menari topeng oleh ibu dan uwaknya. Tawaran tersebut awalnya ditolak karena malu. Lagipula, ia waktu itu sudah dipercaya sebagai pemain alat musik tradisional panjak mengiringi para penari. Namun, ia berubah pikiran dan bersedia berlatih tari topeng.

    Sejumlah prestasi pernah dicapai olehnya. Yang paling membanggakan adalah saat mengikuti festival-festival yang diselenggarakan di Jawa Barat dan Jakarta pada 1974. Ia juga pernah menari di hadapan Presiden RI ke-2, Soeharto, di Istana Bogor.

    Ia kerap berduet dengan sejumlah seniman lain di Indonesia. Salah satunya Didik Nini Thowok. Namun, sederet piagam penghargaan dan piala itu harus digadaikan demi memenuhi kebutuhan ekonomi.

    Hanya tersisa selembar dokumen piagam penghargaan dan sehelai foto yang dimiliki Mimi Tumus sebagai saksi bisu. Setelah itu, ia memutuskan untuk tidak menari lagi selama satu dekade.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Maestro Tari Topeng Kreyo Terakhir Terpaksa Jadi Tukang Pijat Rating: 5 Reviewed By: Forex Mart
    Scroll to Top