728x90 AdSpace

  • Latest News

    Tuesday, 19 July 2016

    Josie-Kosei, Sisi Gelap Dunia Prostitusi Jepang



    Jepangers - Sudah menjadi rahasia umum jika Jepang, merupakan surga dari berbagai jenis fantasi sex, untuk memuaskan nafsu dari para hidung belang. Di negara yang terkenal dengan kemajuan teknologinya ini, terdapat berbagai macam klub malam dengan berbagai penawaran yang menggiurkan bagi para penikmat nafsu dunia.





    Mulai dari sekedar layanan teman minum dan karaoke, hingga hal-hal yang bisa di bilang cukup nyeleneh, seperti Soap Land (Mandi Bersama) dan Cosplay Box (Memilih gadis sesuai kostum yang dinginkan).

    Namun yang membuat miris adalah sebuah layanan lain yang biasa disebut dengan Joshi-kosei osanpo (JK), yang berarti layanan berkencan dengan Gadis SMA. Layanan yang awalnya hanyalah pekerjaan sambilan dengan membagikan brosur oleh siswi SMA sambil kadang menemani ngobrol dan jalan-jalan.

    Belakangan mulai berkembang menjadi sarana prostitusi anak 'terselubung' dengan berkedok Kafe yang menyediakan jasa ngobrol, pijat hingga berjalan-jalan di sekitar wilayah itu dengan seorang siswi SMA.

    Namun tak jarang juga hal ini akhirnya berujung pada sebuah transaksi sex, antara Josie-Kosei dan pelanggannya, dan berikut ini adalah ulasan tentang Josie-Kosei sisi gelap dunia prostitusi di Jepang



    AWAL MULA







    Di Jepang seorang siswi SMA yang masih terlihat polos, seolah memiliki daya tarik dan tempat tersendiri dalam tatanan masyarakat.


    Dengan rok pendek yng khas dan tingkah mereka yang lucu, membuat gadis-gadis ini menjadi obyek fantasi favorit dalam berbagai bidang mulai dari kartun, komik, Idol seperti AKB48, hingga Joshi-kosei.


    Tapi yang tak banyak orang tahu adalah, bahwa selain dijadikan sebagai karakter dalam komik maupun Idol, kita benar-benar bisa membeli siswi-siswi SMA ini secara harafiah. Dan demi meraih keuntungan yang besar beberapa orang tak bertanggung jawab telah merubah tradisi Josie-Kosei, menjadi ajang prostitusi anak di bawah umur.


    Sisi gelap kehidupan malam di Jepang, inilah yang coba di ungkap oleh seorang Wartawan asal Brooklyn, bernama Simon Ostrovsky, dalam film dokumenter pendeknya yang berjudul "Girl For Sale"


    EKSEKUSI





    Pada tahun 2014 ketika Simon menyambangi Jepang untuk membuat Film dokumenternya, ia melihat bahwa di balik gemerlapnya lampu-lampu yang ada di kota Tokyo, tepatnya di distrik Akihabara.


    Terdapat puluhan siswi SMA yang sedang membagikan selebaran bagi orang yang lewat. Para remaja ini berusaha untuk menarik orang-orang yang lewat agar mampir ke tempat yang mereka promosikan.


    Jika seseorang berminat maka Ia bisa masuk dan memilih dengan siswi mana dirinya ingin mengobrol, diramal ataupun pijat, namun tak jarang juga hal yang lebih.





    Dan untuk mengetahui lebih dalam tentang Josei-Kosei, Simon Ostrovsky, akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam salah satu Kafe yang menyediakan jasa Josei-Kosei.





    Disini Ia diantarkan ke sebuah ruangan kecil untuk mengobrol dengan seorang Gadis SMA. Untuk jasa ini sendiri Simon harus menbayar 3.000 Yen atau sekitar $30. Setelah beberapa menit mengobrol, gadis ini pun coba meramal Simon, tapi setelah berapa saat akhirnya gadis ini secara malu-malu mengaku kalau dia sebenarnya tak bisa meramal.


    Namun bukan itu yang menjadi perhatian Simon, karena dalam ruangan yang sama, Ia melihat seorang pria paruh baya lain yang sedang menggunakan jasa Josei-Kosei untuk ngobrol. Ketika itu karena penasaran, Ia memutuskan untuk mengarahkan kamera tersembunyi yang dibawanya ke arah meja orang tersebut.


    Dan meskipun obrolan mereka terdengar biasa, tapi dirinya sungguh merasa tak nyaman, melihat seorang Pria dewasa membayar uang untuk berbincang dengan gadis di bawah umur sambil terus menggoda mereka. Menurutnya hal tersebut sangat mengerikan.


    INSPEKSI





    Setelah beberapa lama mencari, akhirnya Simon berhasil menemukan seorang Josie-Kosei yang bersedia untuk menceritakan sisi gelap dari profesi ini dengan syarat identitasnya di rahasiakan.


    Gadis yang mengaku telah menjadi JK sejak berusia 16 tahun ini, mengatakan kalau pilihanya menjadi JK adalah karena Ibunya mengalami Sakit Mental dan kondisi keluarganya tak lagi akur. Dia mengaku merasa tak tak punya tempat sampai dirinya datang ke Akihabara.


    Disini Ia merasa bisa melupakan kehidupan sehari-harinya saat bagikan selebaran. Selain membagikan selebaran dirinya juga melakukan pekerjaan JK lainya mulai dari Ngobrol, Pijat hingga Meramal.


    Namun gadis ini juga mengaku, tak menolak tawaran lain jika harganya dinilai cocok. Ia mengaku tawaran yang biasa datang padanya mulai dari sekedar menyentuh payudara hingga berhubungan Sex. Dan saat bertanya pada gadis ini, apakah dirinya sudah berhubungan sex dengan pelanggan ketika usianya belum 18 tahun, gadis mengiayakan pertanyaan Simon.

    Ia berujar "Semuanya terjadi begitu saja, tiba-tiba kami bergairah".


    Gadis ini juga bercerita, bagaimana para pelanggannya tak menyukai gadis yang berdandan, dan lebih menginginkan siswi SMA yang mengenakan rok pendek dan masih terlihat polos.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Josie-Kosei, Sisi Gelap Dunia Prostitusi Jepang Rating: 5 Reviewed By: Forex Mart
    Scroll to Top