728x90 AdSpace

  • Latest News

    Tuesday, 10 May 2016

    Puisi Chairil Anwar


    PRAJURIT JAGA MALAMWaktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
    Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
    bermata tajam
    Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
    kepastian
    ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
    Aku suka pada mereka yang berani hidup
    Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
    Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
    Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
    (1948)
    Siasat,
    Th III, No. 96
    1949


    MALAM 
    Mulai kelam
    belum buntu malam
    kami masih berjaga
    --Thermopylae?-
    - jagal tidak dikenal ? -
    tapi nanti
    sebelum siang membentang
    kami sudah tenggelam hilang
    Zaman Baru,No. 11-12
    20-30 Agustus 1957

    KRAWANG-BEKASI 
    Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
    tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
    Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
    terbayang kami maju dan mendegap hati ?
    Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
    Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
    Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
    Kenang, kenanglah kami.

    Kami sudah coba apa yang kami bisa
    Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

    Kami cuma tulang-tulang berserakan
    Tapi adalah kepunyaanmu
    Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

    Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
    atau tidak untuk apa-apa,
    Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
    Kaulah sekarang yang berkata

    Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
    Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

    Kenang, kenanglah kami
    Teruskan, teruskan jiwa kami
    Menjaga Bung Karno
    menjaga Bung Hatta
    menjaga Bung Sjahrir

    Kami sekarang mayat
    Berikan kami arti
    Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

    Kenang, kenanglah kami
    yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
    Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi 

    (1948)
    Brawidjaja,
    Jilid 7, No 16,
    1957


    DIPONEGORO 
    Di masa pembangunan ini
    tuan hidup kembali
    Dan bara kagum menjadi api

    Di depan sekali tuan menanti
    Tak gentar. 
    Lawan banyaknya seratus kali.
    Pedang di kanan, keris di kiri
    Berselempang semangat yang tak bisa mati.
    MAJU 
    Ini barisan tak bergenderang-berpalu
    Kepercayaan tanda menyerbu.

    Sekali berarti
    Sudah itu mati.

    MAJU

    Bagimu Negeri
    Menyediakan api.

    Punah di atas menghamba
    Binasa di atas ditindas
    Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
    Jika hidup harus merasai

    Maju
    Serbu
    Serang
    Terjang 

    (Februari 1943)
    Th III, No. 8 Agustus 1954
    PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

    Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
    Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
    dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
    Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
    Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
    Aku sekarang api aku sekarang laut

    Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
    Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
    Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

    (1948)

    Liberty,
    Jilid 7, No 297,
    1954

    AKU 

    Kalau sampai waktuku
    'Ku mau tak seorang kan merayu
    Tidak juga kau

    Tak perlu sedu sedan itu

    Aku ini binatang jalang
    Dari kumpulannya terbuang

    Biar peluru menembus kulitku
    Aku tetap meradang menerjang

    Luka dan bisa kubawa berlari
    Berlari
    Hingga hilang pedih peri

    Dan aku akan lebih tidak perduli

    Aku mau hidup seribu tahun lagi
    Maret 1943
    PENERIMAAN 
    Kalau kau mau kuterima kau kembali
    Dengan sepenuh hati

    Aku masih tetap sendiri

    Kutahu kau bukan yang dulu lagi
    Bak kembang sari sudah terbagi

    Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

    Kalau kau mau kuterima kembali
    Untukku sendiri tapi

    Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
    Maret 1943

    HAMPA 
    kepada sri yang selalu sangsi

    Sepi di luar. 
    Sepi menekan mendesak.
    Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
    Sampai ke puncak. Sepi memagut,
    Tak satu kuasa melepas-renggut
    Segala menanti. Menanti. 
    Menanti.
    Sepi.
    Tambah ini menanti jadi mencekik
    Memberat-mencekung punda
    Sampai binasa segala. Belum apa-apa
    Udara bertuba. Setan bertempik
    Ini sepi terus ada. Dan menanti.

    DOA 
    kepada pemeluk teguh

    Tuhanku
    Dalam termangu
    Aku masih menyebut namamu

    Biar susah sungguh
    mengingat Kau penuh seluruh

    cayaMu panas suci
    tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

    Tuhanku

    aku hilang bentuk
    remuk

    Tuhanku

    aku mengembara di negeri asing

    Tuhanku
    di pintuMu aku mengetuk
    aku tidak bisa berpaling


    (13 November 1943)

    SAJAK PUTIH 
    Bersandar pada tari warna pelangi
    Kau depanku bertudung sutra senja
    Di hitam matamu kembang mawar dan melati
    Harum rambutmu mengalun bergelut senda

    Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
    Meriak muka air kolam jiwa
    Dan dalam dadaku memerdu lagu
    Menarik menari seluruh aku

    Hidup dari hidupku, pintu terbuka
    Selama matamu bagiku menengadah
    Selama kau darah mengalir dari luka
    Antara kita Mati datang tidak membelah...


    SENJA DI PELABUHAN KECIL buat: Sri Ajati

    Ini kali tidak ada yang mencari cinta
    di antara gudang, rumah tua, pada cerita
    tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
    menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

    Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
    menyinggung muram, desir hari lari berenang
    menemu bujuk pangkal akanan. 
    Tidak bergerak
    dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

    Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
    menyisir semenanjung, masih pengap harap
    sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
    dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
    1946

    CINTAKU JAUH DI PULAU

    Cintaku jauh di pulau,
    gadis manis, sekarang iseng sendiri

    Perahu melancar, bulan memancar,
    di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
    angin membantu, laut terang, tapi terasa
    aku tidak 'kan sampai padanya.

    Di air yang tenang, di angin mendayu,
    di perasaan penghabisan segala melaju
    Ajal bertakhta, sambil berkata:
    "Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

    Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
    Perahu yang bersama 'kan merapuh!
    Mengapa Ajal memanggil dulu
    Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

    Manisku jauh di pulau,
    kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri. 

    1946
    MALAM DI PEGUNUNGAN 
    Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
    Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
    Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
    Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan! 

    1947

    YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS 

    kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
    menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
    malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

    di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

    aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
    dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
    tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

    tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
    1949

    DERAI DERAI CEMARA

    cemara menderai sampai jauh
    terasa hari akan jadi malam
    ada beberapa dahan di tingkap merapuh
    dipukul angin yang terpendam

    aku sekarang orangnya bisa tahan
    sudah berapa waktu bukan kanak lagi
    tapi dulu memang ada suatu bahan
    yang bukan dasar perhitungan kini

    hidup hanya menunda kekalahan
    tambah terasing dari cinta sekolah rendah
    dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
    sebelum pada akhirnya kita menyerah 
    1949

    DENGAN MIRAT
    Kamar ini jadi sarang penghabisan
    di malam yang hilang batas
    Aku dan engkau hanya menjengkau
    rakit hitam
    ‘Kan terdamparkah
    atau terserah
    pada putaran hitam?
    Matamu ungu membatu
    Masih berdekapankah kami atau
    mengikut juga bayangan itu
    1946

    TJERITA BUAT DIEN TAMAELA
    Beta Pattiradjawane
    jang didjaga datu datu
    Tjuma satu
    Beta Pattiradjawane
    kikisan laut
    berdarah laut
    beta pattiradjawane
    ketika lahir dibawakan
    datu dajung sampan
    beta pattiradjawane pendjaga hutan pala
    beta api dipantai,siapa mendekat
    tiga kali menjebut beta punja nama
    dalam sunyi malam ganggang menari
    menurut beta punya tifa
    pohon pala, badan perawan djadi
    hidup sampai pagi tiba
    mari menari !
    mari beria !
    mari berlupa !
    awas ! djangan bikin bea marah
    beta bikin pala mati, gadis kaku
    beta kirim datu-datu !
    beta ada dimalam, ada disiang
    irama ganggang dan api membakar pulau …….
    beta pattiradjawane
    jang didjaga datu-datu
    tjuma satu

    AKU BERADA KEMBALI
    Aku berada kembali. Banyak yang asing:
    air mengalir tukar warna,kapal kapal,
    elang-elang
    serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;
    rasa laut telah berubah dan kupunya wajah
    juga disinari matari lain.
    Hanya
    Kelengangan tinggal tetap saja.
    Lebih lengang aku di kelok-kelok jalan;
    lebih lengang pula ketika berada antara
    yang mengharap dan yang melepas.
    Telinga kiri masih terpaling
    ditarik gelisah yang sebentar-sebentar
    seterang
    guruh

    1949

    TAMAN 

    Taman punya kita berdua
    tak lebar luas, kecil saja
    satu tak kehilangan lain dalamnya.
    Bagi kau dan aku cukuplah
     
    Taman kembangnya tak berpuluh warna
     
    Padang rumputnya tak berbanding permadani
     
    halus lembut dipijak kaki.
     
    Bagi kita bukan halangan.
     
    Karena
     
    dalam taman punya berdua
     
    Kau kembang, aku kumbang
     
    aku kumbang, kau kembang.
     
    Kecil, penuh surya taman kita 
    tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia


    Maret, 1943

    LAGU BIASA

    Di teras rumah makan kami kini berhadapan 
    Baru berkenalan. Cuma berpandangan
     
    Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam
     

    Masih saja berpandangan
     
    Dalam lakon pertama
     
    Orkes meningkah dengan “Carmen” pula.
     
    Ia mengerling. Ia ketawa 
    Dan rumput kering terus menyala
     
    Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
     
    Darahku terhenti berlari
     

    Ketika orkes memulai “Ave Maria”
     
    Kuseret ia ke sana…


    Maret 1943

    PEMBERIAN TAHU

    Bukan maksudku mau berbagi nasib, 
    nasib adalah kesunyian masing-masing.
     
    Kupilih kau dari yang banyak, tapi
     
    sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.
     
    Aku pernah ingin benar padamu,
     
    Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,
     

    Kita berpeluk cium tidak jemu,
     
    Rasa tak sanggup kau kulepaskan.
     
    Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
     
    Aku memang tidak bisa lama bersama
     
    Ini juga kutulis di kapal, di laut tak bernama!


    1946

    MERDEKA

    Aku mau bebas dari segala
    Merdeka
    Juga dari Ida

    Pernah
    Aku percaya pada sumpah dan cinta
    Menjadi sumsum dan darah
    Seharian kukunyah-kumamah

    Sedang meradang
    Segala kurenggut
    Ikut bayang

    Tapi kini
    Hidupku terlalu tenang
    Selama tidak antara badai
    Kalah menang

    Ah! Jiwa yang menggapai-gapai
    Mengapa kalau beranjak dari sini
    Kucoba dalam mati.
    14 Juli 1943

    DALAM KERETA ~ Chairil Anwar

    Dalam kereta.
    Hujan menebal jendela

    Semarang, Solo…, makin dekat saja
    Menangkup senja.

    Menguak purnama.
    Caya menyayat mulut dan mata.
    Menjengking kereta. Menjengking jiwa,

    Sayatan terus ke dada

    AKU BERKISAR ANTARA MEREKA ~ Chairil Anwar

    Aku berkisar antara mereka sejak terpaksa
    Bertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata
    mereka
    pergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda:
    kenyataan-kenyataan yang didapatnya.
    (bioskop Capitol putar film Amerika,
    lagu-lagu baru irama mereka berdansa)
    Kami pulang tidak kena apa-apa
    Sungguhpun Ajal macam rupa jadi tetangga
    Terkumpul di halte, kami tunggu trem dari kota
    Yang bergerak di malam hari sebagai gigi masa.
    Kami, timpang dan pincang, negatip dalam janji
    juga
    Sendarkan tulang belulang pada lampu jalan saja,
    Sedang tahun gempita terus berkata.
    Hujan menimpa. Kami tunggu trem dari kota.
    Ah hati mati dalam malam ada doa
    Bagi yang baca tulisan tanganku dalam cinta
    mereka
    Semoga segala sypilis dan segala kusta
    (Sedikit lagi bertambah cerita bom atom pula)
    Ini buktikan tanda kedaulatan kami bersama
    Terimalah duniaku antara yang menyaksikan bisa
    Kualami kelam malam dan mereka dalam diriku
    pula.
    1949

    SUDAH DULU LAGI ~ Chairil Anwar

    Sudah dulu lagi terjadi begini
    Jari tidak bakal teranjak dari petikan bedil
    Jangan tanya mengapa jari cari tempat di sini
    Aku tidak tahu tanggal serta alasan lagi
    Dan jangan tanya siapa akan menyiapkan liang
    penghabisan
    Yang akan terima pusaka: kedamaian antara
    runtuhan menara
    Sudah dulu lagi, sudah dulu lagi
    Jari tidak bakal teranjak dari petikan bedil.

    1948

    KEPADA PEMINTA-MINTA ~ Chairil Anwar

    Baik, baik aku akan menghadap Dia
    Menyerahkan diri dan segala dosa
    Tapi jangan tentang lagi aku
    Nanti darahku jadi beku.

    Jangan lagi kau bercerita
    Sudah tercacar semua di muka
    Nanah meleleh dari luka
    Sambil berjalan kau usap juga.

    Bersuara tiap kau melangkah
    Mengeerang tiap kau memandang
    Menetes dari suasana kau datang
    Sembarang kau merebah.

    Mengganggu dalam mimpiku
    Menghempas aku di bumi keras
    Di bibirku terasa pedas
    Mengaum di telingaku.

    Baik, baik aku akan menghadap Dia
    Menyerahkan diri dari segala dosa
    Tapi jangan tentang lagi aku
    Nanti darahku jadi beku.
    Juni 1943


    SAJAK BUAT BASUKI RESOBOWO ~ Chairil Anwar

    Adakah jauh perjalanan ini?
    Cuma selenggang! – coba kalau bisa lebih!
    Lantas bagaimana?
    Pada daun gugur tanya sendiri,
    Dan sama lagu melembut jadi melodi!

    Apa tinggal jadi tanda mata?
    Lihat pada betina tidak lagi menengadah
    Atau bayu sayu, bintang menghilang!

    Lagi jalan ini berapa lama?
    Boleh seabad… aduh sekerdip saja!
    Perjalanan karna apa?
    Tanya rumah asal yang bisu!
    Keturunanku yang beku di situ!

    Ada yang menggamit?
    Ada yang kehilangan?
    Ah! Jawab sendiri! – aku terus gelandangan….

    28 Februari 1947

    MIRAT MUDA, CHAIRIL MUDA ~ Chairil Anwar

    di pegunungan 1943

    Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
    Menatap lama ke dalam pandangnya
    coba memisah matanya menantang
    yang satu tajam dan jujur yang sebelah.

    Ketawa diadukannya giginya pada
    mulut Chairil; dan bertanya: Adakah, adakah
    kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
    Mirat raba urut Chairil, raba dada
    Dan tahulah dia kini, bisa katakan
    dan tunjukkan dengan pasti di mana
    menghidup jiwa, menghembus nyawa
    Liang jiwa-nyawa saling berganti. Dia
    rapatkan.

    Dirinya pada Chairil makin sehati;
    hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
    Hiduplah Mirat dan Chairil dengan deras,
    menuntut tinggi tidak setapak berjarak
    dengan mati.
    1949

    SORGA ~ Chairil Anwar

    buat Basuki Resobowo

    Seperti ibu + nenekku juga
    tambah ketujuh turunan yang lalu
    aku minta pula supaya sampai di sorga
    yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai
    susu
    dan bertabur bidadari beribu

    Tapi ada suara menimbang dalam diriku,
    nekat mencemooh: Bisakah kiranya
    berkering dari kuyup laut biru,
    gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
    Lagi siapa bisa mengatakan pasti
    di ditu memang memang ada bidari
    suaranya berat menelan seperti Nina, punya
    kerlingnya Jati?
    Malang, 23 Februari 1947

    SELAMA BULAN MENYINARI DADANYA ~ Chairil Anwar

    Selama bulan menyinari dadanya jadi pualam
    ranjang padang putih tiada batas
    sepilah panggil-panggilan
    antara aku dan mereka yang bertolak
    Aku bukan lagi si cilik tidak tahu jalan
    di hadapan berpuluh lorong dan gang
    menimbang:
    ini tempat terikat pada Ida dan ini ruangan “pas
    bebas”
    Selama bulan menyinari dadanya jadi pualam
    ranjang padang putih tiada batas
    sepilah panggil-panggilan
    antara aku dan mereka yang bertolak
    Juga ibuku yang berjanji
    tidak meninggalkan sekoci.

    Lihat cinta juga luntur:
    Dan aku yang pilih
    tinjauan mengabur, daun-daun sekitar gugur
    rumah bersembunyi dalam cemara rindang tinggi
    pada jendela kaca tiada bayang datang mengambang
    Gundu, gasing, kuda-kuadaan, kapal-kapalan di
    zaman kanak,
    Lihatlah cinta jingga luntur:
    Kalau datang nanti topan ajaib
    menggulingkan gundu, memutarkan gasing
    memacu kuda-kudaan, menghempas kapal-kapalan
    aku sudah lebih dulu kaku.

    1948

    TUTI ARTIC ~ Chairil Anwar

    Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,
    Adikku yang lagi keenakan menjilati es artic;
    Sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca
    cola.
    Isteriku dalam latihan: kita hentikan jam berdetik.

    Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal
    terasa
    - ketika kita bersepeda kuantar kau pulang -
    Panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
    Mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang.

    Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali
    bertukar;
    Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu:
    Sorga hanya permainan sebentar.

    Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu
    Aku dan Tuti + Greet + Amoi… hati terlantar,
    Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.
    1947

    BUAT NYONYA N. ~ Chairil Anwar

    Sudah terlampau puncak pada tahun yang lalu,
    dan kini dia turun ke rendahan datar.
    Tiba di puncak dan dia sungguh tidak tahu,
    Burung-burung asing bermain keliling kepalanya
    dan buah-buah hutan ganjil mencap warna pada
    gaun.

    Sepanjang jalan dia terkenang akan jadi satu
    Atas puncak tinggi sendiri
    berjubah angin, dunia di bawah dan lebih dekat
    kematian
    Tapi hawa tinggal hampa, tiba di puncak dia
    sungguh tiada tahu

    Jalan yang dulu tidak akan dia tempuh lagi,
    Selanjutnya tidak ada burung-burung asing, buah-
    buah pandan ganjil

    Turun terus. 
    Sepi.
    Datar-lebar-tidak bertepi
    1949

    KEPADA KAWAN ~ Chairil Anwar

    Sebelum Ajal mendekat dan mengkhianat,
    mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,
    selama masih menggelombang dalam dada darah
    serta rasa,

    belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
    tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
    layar merah berkibar hilang dalam kelam,
    kawan, mari kita putuskan kini di sini:
    Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!

    Jadi
    Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
    Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
    Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
    Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
    Jangan tambatkan pada siang dan malam
    Dan
    Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
    Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
    Tidak minta ampun atas segala dosa,
    Tidak memberi pamit pada siapa saja!
    Jadi
    Mari kita putuskan sekali lagi:
    Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
    Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
    Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
    Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!
    30 November 1946

    “BETINA”-NYA AFFANDI ~ Chairil Anwar

    Betina, jika di barat nanti
    menjadi gelap
    turut tenggelam sama sekali
    juga yang mengendap,
    di mukamu tinggal bermain Hidup dan Mati.

    Matamu menentang – sebentar dulu! –
    Kau tidak gamang, hidup kau sintuh, kau cumbu,
    sekarang senja gosong, tinggal abu…
    Dalam tubuhmu ramping masih berkejaran
    Perempuan dan Laki
    1946

    PUNCAK ~ Chairil Anwar

    Pondering, pondering on you, dear…

    Minggu pagi di sini. Kederasan ramai kota yang
    terbawa
    tambah penjoal dalam diri – diputar
    atau memutar –
    terasa tertekan; kita berbaring bulat telanjang
    Sehabis apa terucap di kelam tadi, kita habis kata
    sekarang.
    Berada 2000 m. jauh dari muka laut, silang siur
    pelabuhan,
    jadi terserah pada perbandingan dengan
    cemara bersih hijau, kali yang bersih hijau

    Maka cintaku sayang, kucoba menjabat tanganmu
    mendekap wajahmu yang asing, meraih bibirmu di
    balik rupa.
    Kau terlompat dari ranjang, lari ke tingkap yang
    masih mengandung kabut, dan kau lihat di sana,
    bahwa antara
    cemara bersih hijau dan kali gunung bersih hijau
    mengembang juga tanya dulu, tanya lama, tanya.
    1948

    KABAR DARI LAUT ~ Chairil Anwar

    Aku memang benar tolol ketika itu,
    mau pula membikin hubungan dengan kau;
    lupa kelasi tiba-tiba bisa sendiri di laut pilu,
    berujuk kembali dengan tujuan biru.

    Di tubuhku ada luka sekarang,
    bertambah lebar juga, mengeluar darah,
    di bekas dulu kau cium nafsu dan garang;
    lagi aku pun sangat lemah serta menyerah.
    Hidup berlangsung antara buritan dan kemudi.
    Pembatasan cuma tambah menyatukan kenang.
    Dan tawa gila pada whisky tercermin tenang.

    Dan kau? Apakah kerjamu sembahyang dan
    memuji.
    Atau di antara mereka juga terdampar,
    Burung mati pagi hari di sisi sangkar?
    1946

    DARI DIA ~ Chairil Anwar

    buat K.

    Jangan salahkan aku, kau kudekap
    bukan karena setia, lalu pergi gemerincing ketawa!
    Sebab perempuan susah mengatasi
    keterharuan penghidupan yang ‘kan dibawakan
    padanya…

    Sebut namaku? ‘ku dating kembali ke kamar
    Yang kautandai lampu merah, kaktus di jendela,
    Tidak tahu buat berapa lama, tapi pasti di senja
    samar
    Rambutku ikal menyinar, kau senapsu dulu kuhela

    Sementara biarkan ‘ku hidup yang sudah
    dijalinkan dalam rahasia…

    Cirebon 1946

    SEBUAH KAMAR ~ Chairil Anwar

    Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
    pada dunia. 
    Bulan yang menyinar ke dalam
    mau lebih banyak tahu.
    “Sudah lima anak bernyawa di sini,
    Aku salah satu!”

    Ibuku tertidur dalam tersedu,
    Keramaian penjara sepi selalu,
    Bapakku sendiri terbaring jemu
    Matanya menatap orang tersalib di batu!

    Sekeliling dunia bunuh diri!
    Aku minta adik lagi pada
    Ibu dan bapakku, karena mereka berada
    di luar hitungan: Kamar begini,
    3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa!
    1946

    LAGU SIUL ~ Chairil Anwar

    Laron pada mati
    Terbakar di sumbu lampu
    Aku juga menemu
    Ajal di cerlang caya matamu
    Heran! ini badan yang selama berjaga
    Habis hangus di api matamu
    ‘Ku kayak tidak tahu saja.

    II

    Aku kira
    Beginilah nanti jadinya:
    Kau kawin, beranak dan berbahagia
    Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

    Dikutuk-sumpahi Eros
    Aku merangkaki dinding buta,
    Tak satu juga pintu terbuka.

    Jadi baik kita padami
    Unggunan api ini
    Karena kau tidak ‘kan apa-apa,
    Aku terpanggang tinggal rangka

    25 November 1945


    JANGAN KITA DI SINI BERHENTI ~ Chairil Anwar

    Jangan kita di sini berhenti.
    Tuaknya tua, sedikit pula
    Sedang kita mau berkendi-kendi
    Terus, terus dulu…!!

    Ke ruang dimana botol tuak banyak berbaris
    Pelayannya kita dilayuani gadis-gadis
    O, bibir merah, selokan mati pertama
    O, hidup, kau masih ketawa??
    24 Juli 1943

    SIAP-SEDIA ~ Chairil Anwar

    kepada angkatanku

    Tanganmu nanti tegang kaku,
    Jantungmu nanti berdebar berhenti,
    Tubuhmu nanti mengeras batu,
    Tapi kami sederap mengganti,
    Terus memahat ini Tugu,

    Matamu nanti kaca saja,
    Mulutmu nanti habis bicara,
    Darahmu nanti mengalir berhenti,
    Tapi kami sederap mengganti,
    Terus berdaya ke Masyarakat Jaya.

    Suaramu nanti diam ditekan,
    Namamu nanti terbang hilang,
    Langkahmu nanti enggan ke depan,
    Tapi kami sederap mengganti,
    Bersatu maju, ke Kemenangan.

    Darah kami panas selama,
    Badan kami tertempa baja,
    Jiwa kami gagah perkasa,
    Kami akan mewarna di angkasa,
    Kami pembawa Bahgia nyata.

    Kawan, kawan
    Menepis segar angin terasa
    Lalu menderu menyapu awan
    Terus menembus surya cahaya
    Memancar pendar ke penjuru segala
    Riang menggelombang sawah dan hutan

    Segala menyala-nyala!
    Segala menyala-nyala!

    Kawan, kawan
    Dan kita bangkit dengan kesedaran
    Mencucuk menerawang hingga belulang.
    Kawan, kawan
    Kita mengayun pedang ke Dunia Terang!

    1944

    MULUTMU MENCUBIT DI MULUTKU ~ Chairil Anwar

    Mulutmu mencubit di mulutku
    Menggelegak benci sejenak itu
    Mengapa merihmu tak kucekik pula
    Ketika halus-perih kau meluka??

    12 Juli 1943

    KITA GUNYAH LEMAH ~ Chairil Anwar

    Kita gunyah lemah
    Sekali tetak tentu rebah
    Segala erang dan jeritan
    Kita penmdam dalam keseharian

    Mari tegak merentak
    Diri-sekeliling kita bentak
    Ini malam purnama akan menembus awan.


    22 Juli 1943

    KAWANKU DAN AKU ~ Chairil Anwar

    Kami sama pejalan larut
    Menembus kabut
    Hujan mengucur badan
    Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan

    Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat

    Siapa berkata-kata…?
    Kawanku hanya rangka saja
    Karena dera mengelucak tenaga

    Dia bertanya jam berapa?

    Sudah larut sekali
    Hilang tenggelam segala makna
    Dan gerak tak punya arti.

    DENDAM ~ Chairil Anwar

    Berdiri tersentak
    Dari mimpi aku bengis dielak

    Aku tegak
    Bulan bersinar sedikit tak nampak

    Tangan meraba ke bawah bantalku
    Keris berkarat kugenggam di hulu

    Bulan bersinar sedikit tak nampak

    Aku mencari
    Mendadak mati kuhendak berbekas di jari

    Aku mencari
    Diri tercerai dari hati

    Bulan bersinar sedikit tak tampak
    13 Juli 1943


    CATETAN TH. 1946 ~ Chairil Anwar

    Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai,
    Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut,
    Dan suara yang kucintai ‘kan berhenti membelai.
    Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut.

    Kita –anjing diburu- hanya melihat sebagian dari
    sandiwara sekarang
    Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau
    di ranjang
    Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
    Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.

    Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu
    Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu;
    Kita memburu arti atau disertakan kepada anak
    lahir sempat.
    Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu
    asah,
    Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering
    sedikit mau basah!

    1946


    KEPADA PENYAIR BOHANG ~ Chairil Anwar

    Suaramu bertanda derita laut tenang…
    Si Mati ini padaku masih berbicara
    Karena dia cinta, dimulutnya membusah
    Dan rindu yang mau memerahi segala
    Si Mati ini matanya terus bertanya!

    Kelana tidak bersejarah
    Berjalan kau terus!
    Sehingga tidak gelisah
    Begitu berlumuran darah.

    Dan duka juga menengadah
    Melihat gayamu melangkah
    Mendayu suara patah:
    “Aku saksi!”

    Bohang,
    Jauh di dasar jiwamu
    bertampuk suatu dunia;
    menguyup rintik satu-Satur
    Kaca dari dirimu pula…

    1945

    KENANGAN ~ Chairil Anwar

    untuk Karinah Moordjono

    Kadang
    Di antara jeriji itu-itu saja
    Mereksmi memberi warna
    Benda usang dilupa
    Ah! Tercebar rasanya diri
    Membumbung tinggi atas kini
    Sejenak
    Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang
    Hancur hilang belum dipegang
    Terhentak
    Kembali di itu-itu saja
    Jiwa bertanya: Dari buah
    Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?
    Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia
    19 April 1943

    BERCERAI ~ Chairil Anwar

    Kita musti bercerai
    Sebelum kicau murai berderai.

    Terlalu kita minta pada malam ini.

    Benar belum puas serah-menyerah
    Darah masih berbusah-busah.

    Terlalu kita minta pada malam ini.

    Kita musti bercerai
    Biar surya ‘kan menembus oleh malam di perisai

    Dua benua bakal bentur-membentur.
    Merah kesumba jadi putih kapur.

    Bagaimana?
    Kalau IDA, mau turut mengabur
    Tidak samudra caya tempatmu menghambar
    7 Juni 1943

    KESABARAN ~ Chairil Anwar

    Aku tak bisa tidur
    Orang ngomong, anjing nggonggong
    Dunia jauh mengabur
    Kelam mendinding batu
    Dihantam suara bertalu-talu
    Di sebelahnya api dan abu

    Aku hendak berbicara
    Suaraku hilang, tenaga terbang
    Sudah! 
    Tidak jadi apa-apa!
    Ini dunia enggan disapa, ambil perduli

    Keras membeku air kali
    Dan hidup bukan hidup lagi

    Kuulangi yang dulu kembali
    Sambil bertutup telinga, berpicing mata
    Menunggu reda yang mesti tiba
    Maret 1943

    PERHITUNGAN ~ Chairil Anwar

    Banyak gores belum terputus saja
    Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda
    caya

    Langit bersih-cerah dan purnama raya…
    Sudah itu tempatku tak tentu di mana.

    Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran

    Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran
    Hembus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke
    Sukabumi…!?
    Kini aku meringkih dalam malam sunyi.
    16 Maret 1943

    KUPU MALAM DAN BINIKU ~ Chairil Anwar

    Sambil berselisih lalu
    mengebu debu.

    Kupercepat langkah. Tak noleh ke belakang
    Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang

    Barah ternganga

    Melayang ingatan ke biniku
    Lautan yang belum terduga
    Biar lebih kami tujuha tahun bersatu

    Barangkali tak setahuku
    Ia menipuku.

    Maret 1943

    LAGU BIASA ~ Chairil Anwar

    Di teras rumah makan kami kini berhadapan
    Baru berkenalan. Cuma berpandangan
    Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam

    Masih saja berpandangan
    Dalam lakon pertama
    Orkes meningkah dengan “Carmen” pula.

    Ia mengerling. Ia ketawa
    Dan rumput kering terus menyala
    Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
    Darahku terhenti berlari

    Ketika orkes memulai “Ave Maria”
    Kuseret ia ke sana….
    Maret 1943

    HUKUM ~ Chairil Anwar

    Saban sore ia lalu depan rumahku
    Dalam baju tebal abu-abu

    Seorang jerih memikul. Banyak menangkis pukul.

    Bungkuk jalannya – Lesu
    Pucat mukanya – Lesu

    Orang menyebut satu nama jaya
    Mengingat kerjanya dan jasa

    Melecut supaya terus ini padanya

    Tapi mereka memaling. 
    Ia begitu kurang tenaga

    Pekik di angkasa. Perwira muda
    Pagi ini menyinar lain masa

    Nanti, kau dinanti-dimengerti!
    Maret 1943

    BUAT ALBUM D.S, ~ Chairil Anwar

    Seorang gadis lagi menyanyi
    Lagu derita di pantai yang jauh,
    Kelasi bersendiri di laut biru, dari
    Mereka yang sudah lupa bersuka.
    Suaranya pergi terus meninggi,
    Kami yang mendengar melihat senja
    Mencium belai si gadis dari pipi
    Dan gaun putihnya sebagian dari mimpi.

    Kami rasa bahagia ‘kan tiba.
    Kelasi mendapat dekapan di pelabuhan
    Dan di negeri kelabu yang berhiba
    Penduduknya bersinar lagi, dapat tujuan.

    Lagu merdu! apa mengertikah adikku kecil
    yang menangis mengiris hati
    Bahwa pelarian akan terus tinggal terpencil,
    Juga di negeri jauh itu surya tidak kembali?

    1946

    AJAKAN ~ Chairil Anwar

    Ida
    Menembus sudah caya
    Udara tebal kabut
    Kaca hitam lumut
    Pecah pencar sekarang
    Di ruang lengang lapang
    Mari ria lagi
    Tujuh belas tahun kembali
    Bersepeda sama gandengan
    Kita jalani ini jalan

    Ria bahgia
    Tak acuh apa-apa
    Gembira-girang
    Biar hujan datang
    Kita mandi-basahkan diri
    Tahu pasti sebentar kering lagi.

    Februari 1943

    NISAN ~ Chairil Anwar

    untuk nenekanda

    Bukan kematian benar menusuk kalbu
    Keridlaanmu menerima segala tiba
    Tak kutahu setinggi itu atas debu
    dan duka maha tuan bertakhta.

    Oktober 1942

    PENGHIDUPAN ~ Chairil Anwar

    Lautan maha dalam
    mukul dentur selama
    nguji tenaga pematang kita

    mukul dentur selama
    hingga hancur remuk redam
    Kurnia Bahagia
    kecil setumpuk
    sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk.
    Desember 1942

    RUMAHKU ~ Chairil Anwar

    Rumahku dari unggun-timbun sajak
    Kaca jernih dari luar segala nampak

    Kulari dari gedong lebar halaman
    Aku tersesat tak dapat jalan

    Kemah kudirikan ketika senjakala
    Di pagi terbang entah ke mana

    Rumahku dari unggun-timbun sajak
    Di sini aku berbini dan beranak

    Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
    Aku tidak lagi meraih petang
    Biar berleleran kata manis madu
    Jika menagih yang satu.

    27 April 1943



    http://fionaquiintly.blogspot.co.id/2011/05/kumpulan-puisi-legendaris-chairil-anwar.html
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Puisi Chairil Anwar Rating: 5 Reviewed By: Forex Mart
    Scroll to Top