728x90 AdSpace

  • Latest News

    Friday, 20 May 2016

    Komunitas Tionghoa Berkumpul, Berupaya Menguak Tragedi 1998



    Komunitas Tionghoa Indonesia berkumpul siang ini. Mereka menggelar dialog publik sebagai upaya untuk mengungkap fakta kekerasan rasial dan seksual yang dialami warga Tionghoa kala kerusuhan Mei 1998 meletus. 

    Perempuan etnis Tionghoa kala itu menjadi sasaran utama aksi pemerkosaan. Menurut aktivis perempuan Andy Yentriyani, pelaku memilih dulu calon korban sebelum beraksi. Sembari berkeliling di jalanan, bus, hingga pertokoan, mereka mencari perempuan Tionghoa dan membiarkan pribumi. 

    Dialog atas Tragedi Mei 1998 yang akan berlangsung di Sekretariat Indonesia Tionghoa (Inti), Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/5), diinisiasi Generasi Muda Indonesia Tionghoa (Gema Inti) DKI Jakarta bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanegara, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, komunitas korban Tragedi Mei 1998, dan berbagai lembaga swadaya masyarakat. 

    Sepanjang Mei 1998, banyak warga sipil jadi korban kerusuhan di ibu kota. Sebelum huru-hara merebak, pada 12 Mei empat orang mahasiswa Universitas Trisakti meregang nyawa tertembak peluru dalam demonstrasi menuntut mundurnya Presiden Soeharto di kampus mereka. Elang Mulya Lesmana, Heri Hartanto, Hafidin Royan, dan Hendrawan Sie di kemudian hari dianugerahi gelar Pahlawan Reformasi. 

    Kala kekacauan melanda ibu kota, berbagai pertokoan dan pusat perbelanjaan jadi sasaran pembakaran, termasuk Yogya Plaza Klender (saat ini Mal Citra Klender). Akibatnya, para pengunjung mal terperangkap dan terpanggang di dalamnya. Sebagian besar jasad tak dapat dikenali lagi sehingga dimakamkan secara massal di Taman Pemakaman Umum Pondok Ranggon. 

    Seakan kerusuhan tak cukup mencekam, pemerkosaan oleh sekelompok lelaki terjadi di sana-sini. Tercatat setidaknya 85 orang menjadi korban kekerasan seksual berdasarkan data Tim Gabungan Pencari Fakta yang dibentuk di masa pemerintahan Habibie.

    Namun jumlah itu, menurut Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK), belum mencerminkan angka yang sesungguhnya. Data TRK menunjukkan angka lebih tinggi. Menurut mereka, sepanjang Mei 1998 tercatat 152 orang menjadi korban pemerkosaan, dengan 20 orang di antaranya meninggal dunia. 

    Terkait Tragedi Mei 1998 tersebut, Dialog Indonesia Tionghoa akan membahas peristiwa itu dari tiga sudut pandang utama, yakni perempuan dan negara, Tionghoa dan nasionalisme, serta peran media dalam meliput isu perempuan.

    Acara ini, menurut komunitas Tiongkoa, digelar sebagai penghormatan bagi para korban Tragedi Mei 1998, dan sebagai bentuk imbauan kepada pemerintah agar tak melupakan peristiwa kelam itu, dan berupaya keras menyingkap kebenaran di baliknya 

    Salah satu narasumber yang bakal berbicara dalam acara itu, Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan Mariana Amiruddin, mengatakan negara harus meminta maaf atas Tragedi Mei 1998 dengan cara mengungkap kebenaran.

    “Agar keadilan tercapai, pengungkapan kebenaran secara hukum melalui pengadilan, karena korban dan masyarakat Indonesia harus tahu siapa pelaku dan seperti apa peristiwa sebenarnya. Itu bisa dilakukan melalui penyidikan dan investigasi mendalam," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
    Dalam dialog, Mariana akan hadir bersama Lie A Dharmawan, relawan dan aktivis 1998 serta pendiri organisasi kemanusiaan nirlaba doctor SHARE. Lie juga merupakan dokter yang sempat menangani para korban pemerkosaan Mei 1998. 

    Mariana berharap pemerintah Indonesia dapat memulihkan psikologis dan merehabilitasi para korban yang selama ini hidup tersiksa oleh trauma Mei 1998.


    http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160520115551-20-132204/komunitas-tionghoa-berkumpul-berupaya-menguak-tragedi-1998/
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Komunitas Tionghoa Berkumpul, Berupaya Menguak Tragedi 1998 Rating: 5 Reviewed By: Forex Mart
    Scroll to Top