728x90 AdSpace

  • Latest News

    Wednesday, 11 May 2016

    Gunung Slamet Makin Ramai, Berkah atau Musibah?



    Setiap libur akhir pekan, Gunung Slamet selalu dipadati pendaki baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Pada liburan akhir pekan lalu saja misalnya, tercatat 4.100 pendaki menggapai puncak Slamet.
    Itu pun yang hanya tercatat di Pos Pendakian Bambangan Purbalingga. Belum lagi pendaki yang naik puncak melalui pos Baturraden, Guci dan Pemalang.
    Para pendaki itu datang dari berbagai kota di Jawa Tengah, Jabar, Jatim, Yogyakarta, dan Jakarta. Jumlah pendakian ini, naik sepuluh kali lipat dari hari biasa. Bahkan, di antaranya, ada pendaki dari India (2 orang), Romania (1) dan Australia (3 orang).
    Pegiat lingkungan dari Komunitas Peduli Gunung Slamet, Dhani Armanto, mencatat beberapa tahun terakhir semua lokasi gunung hampir bisa dipastikan ramai. Ramainya kunjungan tidak diiringi dengan momentum penataan yang baik. Tidak ada sistem dan manajemen yang menghubungkan lima jalur pendakian yang ada.

    €œMenyedihkan, dari citra satelit terlihat bahwa tutupan pohon di jalur Bambangan semakin terbuka. Ini menandakan semakin kritisnya kawasan Gunung Slamet,” kata Dhani Armanto, Rabu 11 Mei 2016.
    Selain sampah yang menggunung di gunung, limbah kotoran manusia juga akan menimbulkan risiko penularan penyakit manusia ke hewan asli kawasan seperti primata. Persoalan lainnya yakni pembukaan lahan untuk mendirikan tenda juga semakin masif.

    Ia mengatakan kondisi Gunung Slamet saat ini sudah pada tahap kritis. Berbagai kerusakan yang terjadi sudah di luar kapasitas ekosistem untuk memulihkan diri. “Pembabatan hutan akan semakin luas,” ucap dia.

    Menurut Dhani, ada tiga kelompok yang paling berperan atas terjadinya kerusakan Gunung Slamet. Pertama yakni Perum Perhutani yang gagal menjalankan mandat menjaga hutan di Jawa. Kedua yakni para pendaki dan wisatawan yang hanya melihat alam dan masyarakat tepi hutan sebagai objek kesenangan saja karena merasa sudah membayar.
    “Ketiga adalah pemerintah yang hanya memposisikan masyarakat tepi hutan sebagai penjaga hutan tanpa pernah berfikir bagamana mereka bertahan hidup di tepi hutan,” kata dia.

    Ia menyarankan agar pendakian ke Gunung Slamet untuk sementara waktu agar dimoratorium. Moratorium diperlukan untuk memulihkan kondisi Slamet yang saat ini sudah rusak.


    Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga, Subeno mengatakan tren mendaki ini menunjukkan wisata minat khusus pendakian ke Gunung Slamet semakin diminati. Para peminat sebagian besar dari kalangan remaja hingga pemuda-pemudi.

    Mereka dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Jumlah pendaki ini juga melebihi pada saat pendakian saat HUT kemerdekaan RI dan pada pergantian tahun. 

    “Jika dibanding hari biasa, pendakian pada akhir pekan lalu naik sepuluh kali lipat," ujarnya. 

    Dia mengatakan pihaknya menyetorkan pendapatan dari tiket masuk sekitar Rp 4 juta. Tiket pendakian ke Gunung Slamet terbilang paling murah, setiap pendaki dikenai tiket Rp 5.000,- yang terbagi Rp 4.000 untuk kas daerah Pemkab, dan sisanya untuk Tim SAR,” kata Subeno.

    Meski libur akhir pekan hingga hari Minggu 8 Mei 2016, kata dia, beberapa pendaki hingga Senin 9 Mei 2016 masih terlihat di pondok pemuda yang menjadi pos pendakian awal di Bambangan. Sebelumnya, para pendaki mulai membanjiri pos pendakian di Dukuh Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, pada Kamis 5 Mei 2016 pagi. 

    €œMereka kebanyakan datang secara berombongan. Dalam satu grup antara 5€“10 orang, bahkan ada yang 20 orang. Namun juga ada yang datang dua orang dalam satu kelompoknya,” kata Subeno. 


    http://regional.liputan6.com/read/2504462/gunung-slamet-makin-ramai-berkah-atau-musibah
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Gunung Slamet Makin Ramai, Berkah atau Musibah? Rating: 5 Reviewed By: Forex Mart
    Scroll to Top