728x90 AdSpace

  • Latest News

    Saturday, 19 March 2016

    Sistem Legalitas Kayu Tak Diminati Pengusaha, Ini Alasannya

    Foto: Rachman Haryanto

    Jakarta -Tak semua pengusaha mengikuti Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Alhasil, kebijakan SVLK yang telah berlaku sejak 2013 lalu belum diterapkan sepenuhnya.

    Ada beberapa faktor yang membuat pengusaha tak mengikuti SVLK. Pertama, minimnya sosialisasi yang menyebabkan banyak pelaku usaha yang tidak mengetahui berlakunya SVLK.

    Erik Sumakut, Direktur CV Ogratia Makna mengatakan, dirinya yang menjalani bisnis jual beli kayu dan olahan kayu di Sulawesi Utara baru mengetahui ada kewajiban SVLK pada 2015 lalu. Sebelumnya ia tak mengetahui ada aturan tersebut.

    "Kita dulu-dulu nggak urus SVLK karena kita nggak tahu. Baru ini saja kita, kita tahun 2015 kita ikut urus SVLK karena difasilitasi," kata dia dalam diskusi di Kantor Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Jakarta, Jumat (18/3/2016).

    Faktor kedua, lanjut dia, mahalnya biaya pengurusan dan panjangnya proses pengurusan yang harus dilalui untuk memperoleh sertifikat SVLK tersebut.

    "Waktu itu teman saya mengurus SVLK sendiri biayanya kalau ditotal sampai Rp 75 juta. Karena harus membayar transportasi dan akomodasi auditor untuk datang ke lokasi kita. Mereka yang akan mengecek produk kita kredibel atau tidak," lanjut dia.

    Ketiga, tak semua pelaku industri hilir meminati kayu dengan label SVLK karena harganya dianggap lebih mahal.

    "Memang masalah SVLK ini ujung-ujungnya harga. Mereka (pengusaha mebel) nggak penting apakah kayunya ber-SVLK atau nggak, yang penting harganya murah dan barang mereka laku. Kadang kita yang ber-SVLK kita naikkan harga Rp 50 ribu per meter kubik saja, mereka sudah lari nggak mau beli," ujar Zuchi Saren Satrio pengusaha kayu dari CV Wonolestari.

    Ia mengatakan, masih tingginya permintaan kayu non-SVLK sendiri disebabkan bahwa kalangan Industri di hilir seperti perusahaan maupun pengerajin mebel dan furnitur belum diwajibkan memiliki SVLK.

    Sehingga kebutuhan atas kayu ber-SVLK juga menjadi minim. 

    "Harus ada dorongan dari Pemerintah agar yang hilirnya wajib memiliki SVLK semua. Sehingga bisa memangkas pemain tengah yang justru nggak ramah lingkungan," pungkas dia.

    Perlu diketahui, sertifikat SVLK merupak bukti bahwa kayu yang dijual maupun kayu yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan furnitur dan mebel bukan berasal dari hasil penebangan liar alias illegallogging.
    (dna/hns) 

    http://finance.detik.com/
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Sistem Legalitas Kayu Tak Diminati Pengusaha, Ini Alasannya Rating: 5 Reviewed By: Forex Mart
    Scroll to Top